Selasa, 28 Agustus 2018

Cara Membudidaya Udang Vaname



Share


13 Cara Budidaya Udang Vaname Tradisional Dengan Mudah

&ana mulyadi
Budidaya udang vaname air tawar bisa dilakukan dengan dua cara yakni secara modern dan juga tradisional. Namun dalam ulasan kali ini, kami akan membahas tentang cara budidaya udang vaname tradisional sebagai panduan anda.

ads
Udang vaname sendiri memiliki keunggulan berupa pertumbuhan yang cepat, tahan terhadap wabah penyakit dan juga pemeliharaannya yang terbilang singkat sekitar 100 hingga 110 hari. Jadi udang vaname cukup cocok bagi anda yang baru ingin mencoba budidaya udang.
Ada beberapa persiapan yang harus dilakukan dalam budidaya udang vaname tradisional seperti berikut ini.

  1. Persiapan Tambak
Untuk langkah awal persiapan tambak seperti budidaya ikan bawal, maka harus dikeringkan hingga dasar untuk menghindari lumut serta lumpur. Apabila pH dasar tambak lebih rendah dari 6, maka pakai kapur pertanian sebanyak 840 kilogram per Ha dan jika tidak bisa mengeringkan tambak, maka pakai pupuk dasar nitrat sebanyak 15 gram per meter persegi untuk daerah yang berair dan mengandung bahan organik. Pastikan semua hewan yang ada dalam tambak pada siklus sebelumnya sudah hilang dan dibasmi agar tidak menjadi pesaing udang dalam mencari pakan alami.

  1. Pemupukan Tambak
Sebelum air diisi, maka tambak sebaiknya juga diberikan pupuk organik dan anorganik yang disebarkan secara merata pada dasar tambak dengan dosis pupuk organik sebanyak 150 hingga 200 kilogram per ha dan pupuk anorganik sebagai sumber nitrogen sebanyak 25 hingga 50 kilogram per ha seperti pada budidaya lobster air tawar di kolam terpal. Pupuk organik bisa berupa tepung gandum, dedak, kulit padi, jagung, tepung kedelai, biji kapas atau pupuk kompos.
Sedangkan untuk pupuk anorganik bisa memakai pupuk ammonium, urea, nitrat, kalsium atau diammonium phosphat. Untuk kotoran ayam dan sapi bisa dipakai sebagai pupuk organik, akan tetapi kotoran ayam yang dipakai harus merupakan pupuk yang bebas dari pestisida dan jika ingin memakai pupuk kotoran ayam, maka dosisnya adalah antara 1000 sampai 2000 kg per ha.
Pupuk organik sebaiknya ditebar secara merata pada permukaan dasar tambak agar memudahkan udang dan plankton mendapatkan pupuk organik seperti selulosa atau komponen yang tidak tercerna pada dasar tambak. Selain itu juga harus diaduk dengan tongkat kayu.

  1. Mengisi Tambak Dengan Air
Hal yang harus diperhatikan adalah air dalam kolam. Agar tambak tidak mengalami perubahan drastis maka kedalaman air harus dipertahankan 1 hingga 1.5 meter.
  1. Kepadatan Algae
Kepadatan algae diukur dengan cara mencelupkan seci dish dalam air tambak dan melihat skala senti pada tongkat kemudian dicatat. Perbaikan kepadatan algae tambah wajib dilakukan jika sechi dish diatas 45 cm atau dibawah 35 cm. Saat melebihi 45 cm maka harus ditambahkan dengan pupuk, sedangkan jika dibawah 35 cm maka jangan tambahkan pupuk. Pergantian air juga dibutuhkan untuk menurunkan kepadatan algae.
Dalam pola tradisional, hal yang harus diperhatikan adalah ketersediaan algae plankton dalam tambak. Algae ini harus mencukupi sesuai dengan kebutuhan agar ketersediaan pakan alami udang bisa terpenuhi sekaligus mempertahankan kondisi kimiawi air untuk mendukung perkembangan udang.
Sponsors Link

Apabila konsentrasi phospat air di sekitar pintu air lebih rendah dari 0.2 ppm, maka phospat harus ditambahkan sebagai sumber fosfor dalam bentuk pupuk buatan. Tambahkan sebanyak 20 sampai 25 kilogram pupuk dasar nitrogen dan satu bagian fosfor. Selain itu anda juga bisa melakukan uji coba untuk menentukan pilihan terbaik dalam memilih jenis pupuk. Pemakaian pupuk fosfor ini sangat disarankan ditambahkan pada wadah pengisian air, sebab jika dilakukan pada saat dasar tambak masih kering, maka sebagian pupuk akan hilang membentuk senyawa kimia dengan partikel tanah.
  1. Mengontrol Pemupukan
Pemupukan algae dilakukan dengan cara pengaturan pemupukan dengan cara meningkatkan konsentrasi algae di tambak berbeda dengan budidaya udang vaname dengan plastik mulsa. Sebagian besar tambak udang tradisional akan menerapkan aturan baku pemupukan yang dilakukan berkala dan selama masa pemeliharaan tersebut tidak dilakukan dengan mempertimbangkan kepadatan algae tambak atau kondisi lingkungan. Akan tetapi, pemberian pupuk tanpa memperhatikan kepadatan algae dan keadaan cuaca bisa memberikan dampak buruk pada udang.
  1. Pemberian Ca
Saat pergantian air tidak bisa dilakukan dan menghentikan pemberian pupuk tidak bisa menekan kepadatan algae, maka calcium hidroksida atau kapur bakar bisa diberikan untuk menurunkan populasi algae yang sedang tumbuh melebihi batas yang diperlukan.
  1. Menangani Penyakit Udang
Untuk mengatasi penyakit udang seperti cara budidaya udang hias, maka gunakan bibit vename SPF bebas penyakit yang sudah layak untuk dibudidayakan sebab bisa memberikan keuntungan dibandingkan memakai udang yang belum mampu SPF. Bibit vename juga harus sudah dipelihara dengan selektif agar memastikan jika bibit udang tahan dengan penyakit tertentu seperti Taura Syndrom Virus [TSV].
ads
  1. Perawatan Kesehatan Lingkungan
Baik dalam budidaya udang galah, budidaya lobster air tawar dan sebagainya,, maka cara terbaik untuk menghindari penyakit adalah dengan menjaga kesehatan lingkungan air tambak dan pertahankan kestabilan airnya. Saat air tambak memburuk seperti contohnya DO yang rendah, maka perubahan pH ekstrim antara siang dan malam akan terjadi sehingga udang menjadi lemah sekaligus mudah terserang penyakit dari lingkungan tambak. Selain itu, pemeliharaan lingkungan tambak juga akan menurunkan risiko infeksi virus serta bakteri pada tambak serta lingkungan.
  1. Ciri Ciri Bibit Berkualitas
Sebelum benih udang ditebar, maka harus diperhatikan ciri ciri benih udang yang berkualitas yakni:
  • Udang memiliki ukuran yang seragam
  • Udang memiliki gerakan yang lincah dan bisa menantang arus
  • Memiliki respon yang baik terhadap gerakan
  • Memiliki warna putih yang transparan
  • Bagian kaki kakinya bersih
  • Isi usus tidak putus
  1. Penebaran Bibit Udang
Penebaran bibit udang harus dilakukan dari area tambak hijau dilanjutkan dengan tambak kuning dan yang terakhir adalah zona merah. Cara ini dilakukan agar tambak pertama yang ditebari bibir akan menghasilkan panen lebih baik. Persiapkan benih udang vename dan pastikan bibit yang dipilih merupakan bibit siap tebar yakni antara usia 6 hingga 10 hari. Penebaran bibit dilakukan dengan cara menyesuaikan pH air agar benih bisa menyesuaikan dengan suhu dalam tambak.
Cara budidaya udang vaname tradisional dilakukan dengan cara menebar bibit yang diapungkan lebih dahulu saat udang masih ada dalam plastik selama kurang lebih 15 menit. Sesudah itu, kantung bisa dibuka dan dipindahkan ke dalam tambak yang merupakan cara terbaik untuk menurunkan angka kematian benih udang vaname.
  1. Pakan Udang Vaname
Pakan untuk udang vaname yang dianjurkan adalah pelet dengan kandungan protein sebanyak 30% seperti budidaya udang air tawar di aquarium. Sementara untuk jumlah pakan disesuaikan dengan umur udang atau memakai ukuran berat udang dan masa pertumbuhan dari udang. Pemberian pakan ini dilakukan antara 2 hingga 3 kali sehari. Pakan udang vaname juga bisa dibuat sendiri dengan sumber alami seperti bekicot atau keong yang tinggi akan protein atau juga bisa menggunakan ikan rucah yang relatif murah.
Pakan ini diberikan pada saat udang sudah berumur 15 hari yang juga bisa menggunakan pakan pabrikan seperti manggalindo, gold coin, grobest dan sebagainya. Sementara untuk pakan tambahan bisa diberikan jagung pecah yang dimasak dan dicampur dengan zat additive untuk menambah aroma, vitamin dan juga probiotik. Udang vaname umumnya bisa menghabiskan pakan dalam waktu 3 jam dan jika kurang dari 3 jam pakan sudah habis maka bisa ditambahkan lagi.
Sementara untuk pemberian pakan buatan dilakukan 2 kali sehari yakni pagi dan sore hari. Sesudah 3 jam pakan buatan habis, maka bisa diberikan pakan lain sebanyak yang bisa dihabiskan dalam waktu 9 jam. Untuk merangsang nafsu makan udang dna menambah vitalitas udang, maka bisa diberikan vitamin portovite yang vitamin untuk ayam dengan dosis 1 sendok maka per 10 kilogram pakan.
Cara pemberian vitamin ini adalah 1 sendok vitamin yang di rendam dalam 1 liter air dan tambahkan dengan 3 butir telur ayam yang sudah dikocok. Campurkan air tersebut pada pakan udang dan biarkan supaya meresap selama beberapa menit. Pakan kemudian dimasukkan dalam anco dan sebagian lagi ditebar di tambak. Jumlah anco dalam satu tambak adalah 2 hingga 4 anco dan jumlah pakan pada anco adalah 5% dari total pakan.
Sponsors Link

  1. Masa Pemeliharaan Udang Vaname
Pada masa pemeliharaan udang vaname ini harus diperhatikan perkembangan benur hingga menjadi udang yang siap panen. Selama proses pemeliharaan, maka suhu dan pH air harus diperhatikan. Kandungan oksigen serta kedalaman air juga harus diperhatikan serta ditambahkan juga dengan pemupukan urea serta TPS dan pemberian probiotik seminggu sekali untuk menjaga kestabilan pertumbuhan plankton. Sesudah benur berumur 70 hari, maka sudah bisa diberikan akan dan pemberian plankton bisa dikurangi serta jaga keseimbangan air hingga udang berumur 100 hari.
  1. Panen Udang Vaname
Panen udang vaname ini dilakukan sesudah umur udang mencapai 100 hingga 110 hari saat panen dan persiapan harus dipersiapkan seperti keranjang untuk panen, jaring yang dipasang pada pintu air, jala lempar, styrofoam dan juga ember, lampu penerangan serta baskom.
Panen udang dilakukan dengan cara menurunkan air memakai pompa yang dilakukan pada malam hari untuk menurunkan kerusakan mutu udang. Udang yang baru di panen sangat peka terhadap sinar matahari sehingga harus dipanen pada malam hari dan hasil tangkapan harus dicuci dan direndam dalam es.
Berikut ini adalah video pembudidaya udang vaname.

Di sudut lorong desa itu, Miswardi duduk bersama teman-temannya di sebuah pondok. Di depannya membentang dua petak tambak membentang luas. Sebelumnya, lokasi itu hanya tanah kosong. Miswardi bersama teman-temannya menyulap lahan kosong itu menjadi tambak dengan menggunakan alas terpal plastik berwarna hitam. Kincir air berputar saban hari di sekitar tambak. Bagian samping, dipasang jaring hitam agar tak masuk binatang lainnya. Siang itu, dia baru saja rehat setelah berkeliling tambak. Dia menebar udang vaname di tambak tersebut. Sebuah gubuk disiapkan bukan hanya sekadar tempat istirahat, namun juga tempat menginap untuk menjaga udang. “Ya, khawatir juga kan ada pencuri,” kata pegawai negeri di Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara itu. Budidaya udang vaname memang opsi bertani tambak dengan lahan terbatas. Namun, sambung Miswardi, butuh kesabaran merawat vaname. “Misalnya soal air, harus steril. Ditambah lagi harus gunakan kincir air, agar selalu air segar di tambak. Namun, bagi saya, ini tambahan penghasilan,” sebutnya. Untuk ukuran tambak 6.000 meter persegi, Miswardi menggelontorkan modal dasar sekitar Rp 50 juta. Uang itu bukan hanya untuk kebutuhan tambak, namun juga untuk kebutuhan pondok dan biaya jaga malam. Untuk bibit, dia mendatangkan langsung dari Jawa Timur. Udang vaname baru bisa dipanen 120 hari setelah ditabur ke kolam. Diperkirakan, dalam rentang waktu 120 hari tersebut, 1 kilogram terdapat 50 ekor udang. “Kami anggap sajalah harga jual termurah itu Rp 85.000 per kilogram. Dengan dua tambak itu, saya duga ada dua ton udang. Ya sekitar Rp 160 juta lah sekali panen,” sebutnya. Dia menyebutkan, itu, untuk pengembangan tambak tersebut, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unimal turut terlibat. Ketua LPPM Unimal, Yulius Dharma, menyatakan pengembangan vaname menjadi solusi bagi masyarakat kota tetap bisa bertani. “Kami ajak juga kawan-kawan ahli udang untuk menjadikan lahan ini sebagai pusat penelitian. Jadi, bukan hanya laba, ini juga bisa tempat praktik mahasiswa,” sebutnya. Matahari kian tergelincir ke barat, Miswardi masih berada di kolam tersebut. Menyaksikan kincir terus berputar, memelihara harapan, agar vaname hidup tanpa gangguan hama, dan mendatangkan rupiah untuk keluarganya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Menyulap Lahan Kosong menjadi Tambak Udang Vaname", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/03/06/213000626/menyulap-lahan-kosong-menjadi-tambak-udang-vaname.
Penulis : Kontributor Lhokseumawe, Masriadi
Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Di sudut lorong desa itu, Miswardi duduk bersama teman-temannya di sebuah pondok. Di depannya membentang dua petak tambak membentang luas. Sebelumnya, lokasi itu hanya tanah kosong. Miswardi bersama teman-temannya menyulap lahan kosong itu menjadi tambak dengan menggunakan alas terpal plastik berwarna hitam. Kincir air berputar saban hari di sekitar tambak. Bagian samping, dipasang jaring hitam agar tak masuk binatang lainnya. Siang itu, dia baru saja rehat setelah berkeliling tambak. Dia menebar udang vaname di tambak tersebut. Sebuah gubuk disiapkan bukan hanya sekadar tempat istirahat, namun juga tempat menginap untuk menjaga udang. “Ya, khawatir juga kan ada pencuri,” kata pegawai negeri di Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara itu. Budidaya udang vaname memang opsi bertani tambak dengan lahan terbatas. Namun, sambung Miswardi, butuh kesabaran merawat vaname. “Misalnya soal air, harus steril. Ditambah lagi harus gunakan kincir air, agar selalu air segar di tambak. Namun, bagi saya, ini tambahan penghasilan,” sebutnya. Untuk ukuran tambak 6.000 meter persegi, Miswardi menggelontorkan modal dasar sekitar Rp 50 juta. Uang itu bukan hanya untuk kebutuhan tambak, namun juga untuk kebutuhan pondok dan biaya jaga malam. Untuk bibit, dia mendatangkan langsung dari Jawa Timur. Udang vaname baru bisa dipanen 120 hari setelah ditabur ke kolam. Diperkirakan, dalam rentang waktu 120 hari tersebut, 1 kilogram terdapat 50 ekor udang. “Kami anggap sajalah harga jual termurah itu Rp 85.000 per kilogram. Dengan dua tambak itu, saya duga ada dua ton udang. Ya sekitar Rp 160 juta lah sekali panen,” sebutnya. Dia menyebutkan, itu, untuk pengembangan tambak tersebut, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unimal turut terlibat. Ketua LPPM Unimal, Yulius Dharma, menyatakan pengembangan vaname menjadi solusi bagi masyarakat kota tetap bisa bertani. “Kami ajak juga kawan-kawan ahli udang untuk menjadikan lahan ini sebagai pusat penelitian. Jadi, bukan hanya laba, ini juga bisa tempat praktik mahasiswa,” sebutnya. Matahari kian tergelincir ke barat, Miswardi masih berada di kolam tersebut. Menyaksikan kincir terus berputar, memelihara harapan, agar vaname hidup tanpa gangguan hama, dan mendatangkan rupiah untuk keluarganya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Menyulap Lahan Kosong menjadi Tambak Udang Vaname", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/03/06/213000626/menyulap-lahan-kosong-menjadi-tambak-udang-vaname.
Penulis : Kontributor Lhokseumawe, Masriadi
Editor : Bambang Priyo Jatmiko

Di sudut lorong desa itu, Miswardi duduk bersama teman-temannya di sebuah pondok. Di depannya membentang dua petak tambak membentang luas. Sebelumnya, lokasi itu hanya tanah kosong. Miswardi bersama teman-temannya menyulap lahan kosong itu menjadi tambak dengan menggunakan alas terpal plastik berwarna hitam. Kincir air berputar saban hari di sekitar tambak. Bagian samping, dipasang jaring hitam agar tak masuk binatang lainnya. Siang itu, dia baru saja rehat setelah berkeliling tambak. Dia menebar udang vaname di tambak tersebut. Sebuah gubuk disiapkan bukan hanya sekadar tempat istirahat, namun juga tempat menginap untuk menjaga udang. “Ya, khawatir juga kan ada pencuri,” kata pegawai negeri di Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara itu. Budidaya udang vaname memang opsi bertani tambak dengan lahan terbatas. Namun, sambung Miswardi, butuh kesabaran merawat vaname. “Misalnya soal air, harus steril. Ditambah lagi harus gunakan kincir air, agar selalu air segar di tambak. Namun, bagi saya, ini tambahan penghasilan,” sebutnya. Untuk ukuran tambak 6.000 meter persegi, Miswardi menggelontorkan modal dasar sekitar Rp 50 juta. Uang itu bukan hanya untuk kebutuhan tambak, namun juga untuk kebutuhan pondok dan biaya jaga malam. Untuk bibit, dia mendatangkan langsung dari Jawa Timur. Udang vaname baru bisa dipanen 120 hari setelah ditabur ke kolam. Diperkirakan, dalam rentang waktu 120 hari tersebut, 1 kilogram terdapat 50 ekor udang. “Kami anggap sajalah harga jual termurah itu Rp 85.000 per kilogram. Dengan dua tambak itu, saya duga ada dua ton udang. Ya sekitar Rp 160 juta lah sekali panen,” sebutnya. Dia menyebutkan, itu, untuk pengembangan tambak tersebut, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unimal turut terlibat. Ketua LPPM Unimal, Yulius Dharma, menyatakan pengembangan vaname menjadi solusi bagi masyarakat kota tetap bisa bertani. “Kami ajak juga kawan-kawan ahli udang untuk menjadikan lahan ini sebagai pusat penelitian. Jadi, bukan hanya laba, ini juga bisa tempat praktik mahasiswa,” sebutnya. Matahari kian tergelincir ke barat, Miswardi masih berada di kolam tersebut. Menyaksikan kincir terus berputar, memelihara harapan, agar vaname hidup tanpa gangguan hama, dan mendatangkan rupiah untuk keluarganya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Menyulap Lahan Kosong menjadi Tambak Udang Vaname", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/03/06/213000626/menyulap-lahan-kosong-menjadi-tambak-udang-vaname.
Penulis : Kontributor Lhokseumawe, Masriadi
Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Demikianlah yang dapat kami sampaikan, semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi anda.

Sponsors Link

Persiapan Tambak Udang Vaname

tambak-udang-vaname
tambak udang vaname, Mamuju Utara, Sulbar
Hal yang paling utama dalam langkah awal budidaya udang vaname adalah, menyiapkan tempat budidaya dengan baik, baik itu dari segi lingkungan, maupun bibit hewannya.
Langkah pertama, tambak harus dikeringkan terlebih dahulu sampai air yang ada didalam tambak sudah benar-benar kering.
Kemudian, biarkan tambak tersebut selama 1 minggu penuh supaya bibit penyakit, patogen, dan mikroorganisme lainnya yang dapat merugikan sudah hilang.
Di sudut lorong desa itu, Miswardi duduk bersama teman-temannya di sebuah pondok. Di depannya membentang dua petak tambak membentang luas. Sebelumnya, lokasi itu hanya tanah kosong. Miswardi bersama teman-temannya menyulap lahan kosong itu menjadi tambak dengan menggunakan alas terpal plastik berwarna hitam. Kincir air berputar saban hari di sekitar tambak. Bagian samping, dipasang jaring hitam agar tak masuk binatang lainnya. Siang itu, dia baru saja rehat setelah berkeliling tambak. Dia menebar udang vaname di tambak tersebut. Sebuah gubuk disiapkan bukan hanya sekadar tempat istirahat, namun juga tempat menginap untuk menjaga udang. “Ya, khawatir juga kan ada pencuri,” kata pegawai negeri di Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara itu. Budidaya udang vaname memang opsi bertani tambak dengan lahan terbatas. Namun, sambung Miswardi, butuh kesabaran merawat vaname. “Misalnya soal air, harus steril. Ditambah lagi harus gunakan kincir air, agar selalu air segar di tambak. Namun, bagi saya, ini tambahan penghasilan,” sebutnya. Untuk ukuran tambak 6.000 meter persegi, Miswardi menggelontorkan modal dasar sekitar Rp 50 juta. Uang itu bukan hanya untuk kebutuhan tambak, namun juga untuk kebutuhan pondok dan biaya jaga malam. Untuk bibit, dia mendatangkan langsung dari Jawa Timur. Udang vaname baru bisa dipanen 120 hari setelah ditabur ke kolam. Diperkirakan, dalam rentang waktu 120 hari tersebut, 1 kilogram terdapat 50 ekor udang. “Kami anggap sajalah harga jual termurah itu Rp 85.000 per kilogram. Dengan dua tambak itu, saya duga ada dua ton udang. Ya sekitar Rp 160 juta lah sekali panen,” sebutnya. Dia menyebutkan, itu, untuk pengembangan tambak tersebut, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unimal turut terlibat. Ketua LPPM Unimal, Yulius Dharma, menyatakan pengembangan vaname menjadi solusi bagi masyarakat kota tetap bisa bertani. “Kami ajak juga kawan-kawan ahli udang untuk menjadikan lahan ini sebagai pusat penelitian. Jadi, bukan hanya laba, ini juga bisa tempat praktik mahasiswa,” sebutnya. Matahari kian tergelincir ke barat, Miswardi masih berada di kolam tersebut. Menyaksikan kincir terus berputar, memelihara harapan, agar vaname hidup tanpa gangguan hama, dan mendatangkan rupiah untuk keluarganya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Menyulap Lahan Kosong menjadi Tambak Udang Vaname", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/03/06/213000626/menyulap-lahan-kosong-menjadi-tambak-udang-vaname.
Penulis : Kontributor Lhokseumawe, Masriadi
Editor : Bambang Priyo Jatmiko
, , ,
Post Date: 05/09/2018 Oleh :Dana Mulyadi
Kategori : Udang Vaname
to top ↑

Tidak ada komentar:

Posting Komentar