Share
13 Cara Budidaya Udang Vaname Tradisional Dengan Mudah
Budidaya udang vaname air tawar
bisa dilakukan dengan dua cara yakni secara modern dan juga
tradisional. Namun dalam ulasan kali ini, kami akan membahas tentang
cara budidaya udang vaname tradisional sebagai panduan anda.
ads
Udang vaname sendiri memiliki keunggulan berupa pertumbuhan yang
cepat, tahan terhadap wabah penyakit dan juga pemeliharaannya yang
terbilang singkat sekitar 100 hingga 110 hari. Jadi udang vaname cukup
cocok bagi anda yang baru ingin mencoba budidaya udang.Ada beberapa persiapan yang harus dilakukan dalam budidaya udang vaname tradisional seperti berikut ini.
- Persiapan Tambak
- Pemupukan Tambak
Sedangkan untuk pupuk anorganik bisa memakai pupuk ammonium, urea, nitrat, kalsium atau diammonium phosphat. Untuk kotoran ayam dan sapi bisa dipakai sebagai pupuk organik, akan tetapi kotoran ayam yang dipakai harus merupakan pupuk yang bebas dari pestisida dan jika ingin memakai pupuk kotoran ayam, maka dosisnya adalah antara 1000 sampai 2000 kg per ha.
Pupuk organik sebaiknya ditebar secara merata pada permukaan dasar tambak agar memudahkan udang dan plankton mendapatkan pupuk organik seperti selulosa atau komponen yang tidak tercerna pada dasar tambak. Selain itu juga harus diaduk dengan tongkat kayu.
- Mengisi Tambak Dengan Air
- Kepadatan Algae
Dalam pola tradisional, hal yang harus diperhatikan adalah ketersediaan algae plankton dalam tambak. Algae ini harus mencukupi sesuai dengan kebutuhan agar ketersediaan pakan alami udang bisa terpenuhi sekaligus mempertahankan kondisi kimiawi air untuk mendukung perkembangan udang.
Apabila konsentrasi phospat air di sekitar pintu air lebih rendah dari 0.2 ppm, maka phospat harus ditambahkan sebagai sumber fosfor dalam bentuk pupuk buatan. Tambahkan sebanyak 20 sampai 25 kilogram pupuk dasar nitrogen dan satu bagian fosfor. Selain itu anda juga bisa melakukan uji coba untuk menentukan pilihan terbaik dalam memilih jenis pupuk. Pemakaian pupuk fosfor ini sangat disarankan ditambahkan pada wadah pengisian air, sebab jika dilakukan pada saat dasar tambak masih kering, maka sebagian pupuk akan hilang membentuk senyawa kimia dengan partikel tanah.
- Mengontrol Pemupukan
- Pemberian Ca
- Menangani Penyakit Udang
- Perawatan Kesehatan Lingkungan
- Ciri Ciri Bibit Berkualitas
- Udang memiliki ukuran yang seragam
- Udang memiliki gerakan yang lincah dan bisa menantang arus
- Memiliki respon yang baik terhadap gerakan
- Memiliki warna putih yang transparan
- Bagian kaki kakinya bersih
- Isi usus tidak putus
- Penebaran Bibit Udang
Cara budidaya udang vaname tradisional dilakukan dengan cara menebar bibit yang diapungkan lebih dahulu saat udang masih ada dalam plastik selama kurang lebih 15 menit. Sesudah itu, kantung bisa dibuka dan dipindahkan ke dalam tambak yang merupakan cara terbaik untuk menurunkan angka kematian benih udang vaname.
- Pakan Udang Vaname
Pakan ini diberikan pada saat udang sudah berumur 15 hari yang juga bisa menggunakan pakan pabrikan seperti manggalindo, gold coin, grobest dan sebagainya. Sementara untuk pakan tambahan bisa diberikan jagung pecah yang dimasak dan dicampur dengan zat additive untuk menambah aroma, vitamin dan juga probiotik. Udang vaname umumnya bisa menghabiskan pakan dalam waktu 3 jam dan jika kurang dari 3 jam pakan sudah habis maka bisa ditambahkan lagi.
Sementara untuk pemberian pakan buatan dilakukan 2 kali sehari yakni pagi dan sore hari. Sesudah 3 jam pakan buatan habis, maka bisa diberikan pakan lain sebanyak yang bisa dihabiskan dalam waktu 9 jam. Untuk merangsang nafsu makan udang dna menambah vitalitas udang, maka bisa diberikan vitamin portovite yang vitamin untuk ayam dengan dosis 1 sendok maka per 10 kilogram pakan.
Cara pemberian vitamin ini adalah 1 sendok vitamin yang di rendam dalam 1 liter air dan tambahkan dengan 3 butir telur ayam yang sudah dikocok. Campurkan air tersebut pada pakan udang dan biarkan supaya meresap selama beberapa menit. Pakan kemudian dimasukkan dalam anco dan sebagian lagi ditebar di tambak. Jumlah anco dalam satu tambak adalah 2 hingga 4 anco dan jumlah pakan pada anco adalah 5% dari total pakan.
- Masa Pemeliharaan Udang Vaname
- Panen Udang Vaname
Panen udang dilakukan dengan cara menurunkan air memakai pompa yang dilakukan pada malam hari untuk menurunkan kerusakan mutu udang. Udang yang baru di panen sangat peka terhadap sinar matahari sehingga harus dipanen pada malam hari dan hasil tangkapan harus dicuci dan direndam dalam es.
Berikut ini adalah video pembudidaya udang vaname.
Di sudut lorong desa
itu, Miswardi duduk bersama teman-temannya di sebuah pondok. Di depannya
membentang dua petak tambak membentang luas.
Sebelumnya, lokasi itu hanya tanah kosong. Miswardi bersama
teman-temannya menyulap lahan kosong itu menjadi tambak dengan
menggunakan alas terpal plastik berwarna hitam.
Kincir air berputar saban hari di sekitar tambak. Bagian samping,
dipasang jaring hitam agar tak masuk binatang lainnya. Siang itu, dia
baru saja rehat setelah berkeliling tambak. Dia menebar udang vaname di
tambak tersebut.
Sebuah gubuk disiapkan bukan hanya sekadar tempat istirahat, namun juga
tempat menginap untuk menjaga udang.
“Ya, khawatir juga kan ada pencuri,” kata pegawai negeri di Universitas
Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara itu.
Budidaya udang vaname memang opsi bertani tambak dengan lahan terbatas.
Namun, sambung Miswardi, butuh kesabaran merawat vaname.
“Misalnya soal air, harus steril. Ditambah lagi harus gunakan kincir
air, agar selalu air segar di tambak. Namun, bagi saya, ini tambahan
penghasilan,” sebutnya.
Untuk ukuran tambak 6.000 meter persegi, Miswardi menggelontorkan modal
dasar sekitar Rp 50 juta. Uang itu bukan hanya untuk kebutuhan tambak,
namun juga untuk kebutuhan pondok dan biaya jaga malam.
Untuk bibit, dia mendatangkan langsung dari Jawa Timur. Udang vaname
baru bisa dipanen 120 hari setelah ditabur ke kolam. Diperkirakan, dalam
rentang waktu 120 hari tersebut, 1 kilogram terdapat 50 ekor udang.
“Kami anggap sajalah harga jual termurah itu Rp 85.000 per kilogram.
Dengan dua tambak itu, saya duga ada dua ton udang. Ya sekitar Rp 160
juta lah sekali panen,” sebutnya.
Dia menyebutkan, itu, untuk pengembangan tambak tersebut, Lembaga
Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unimal turut terlibat.
Ketua LPPM Unimal, Yulius Dharma, menyatakan pengembangan vaname menjadi
solusi bagi masyarakat kota tetap bisa bertani.
“Kami ajak juga kawan-kawan ahli udang untuk menjadikan lahan ini
sebagai pusat penelitian. Jadi, bukan hanya laba, ini juga bisa tempat
praktik mahasiswa,” sebutnya.
Matahari kian tergelincir ke barat, Miswardi masih berada di kolam
tersebut. Menyaksikan kincir terus berputar, memelihara harapan, agar
vaname hidup tanpa gangguan hama, dan mendatangkan rupiah untuk
keluarganya.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Menyulap Lahan Kosong menjadi Tambak Udang Vaname", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/03/06/213000626/menyulap-lahan-kosong-menjadi-tambak-udang-vaname.
Penulis : Kontributor Lhokseumawe, Masriadi
Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Menyulap Lahan Kosong menjadi Tambak Udang Vaname", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/03/06/213000626/menyulap-lahan-kosong-menjadi-tambak-udang-vaname.
Penulis : Kontributor Lhokseumawe, Masriadi
Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Di sudut lorong desa
itu, Miswardi duduk bersama teman-temannya di sebuah pondok. Di depannya
membentang dua petak tambak membentang luas.
Sebelumnya, lokasi itu hanya tanah kosong. Miswardi bersama
teman-temannya menyulap lahan kosong itu menjadi tambak dengan
menggunakan alas terpal plastik berwarna hitam.
Kincir air berputar saban hari di sekitar tambak. Bagian samping,
dipasang jaring hitam agar tak masuk binatang lainnya. Siang itu, dia
baru saja rehat setelah berkeliling tambak. Dia menebar udang vaname di
tambak tersebut.
Sebuah gubuk disiapkan bukan hanya sekadar tempat istirahat, namun juga
tempat menginap untuk menjaga udang.
“Ya, khawatir juga kan ada pencuri,” kata pegawai negeri di Universitas
Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara itu.
Budidaya udang vaname memang opsi bertani tambak dengan lahan terbatas.
Namun, sambung Miswardi, butuh kesabaran merawat vaname.
“Misalnya soal air, harus steril. Ditambah lagi harus gunakan kincir
air, agar selalu air segar di tambak. Namun, bagi saya, ini tambahan
penghasilan,” sebutnya.
Untuk ukuran tambak 6.000 meter persegi, Miswardi menggelontorkan modal
dasar sekitar Rp 50 juta. Uang itu bukan hanya untuk kebutuhan tambak,
namun juga untuk kebutuhan pondok dan biaya jaga malam.
Untuk bibit, dia mendatangkan langsung dari Jawa Timur. Udang vaname
baru bisa dipanen 120 hari setelah ditabur ke kolam. Diperkirakan, dalam
rentang waktu 120 hari tersebut, 1 kilogram terdapat 50 ekor udang.
“Kami anggap sajalah harga jual termurah itu Rp 85.000 per kilogram.
Dengan dua tambak itu, saya duga ada dua ton udang. Ya sekitar Rp 160
juta lah sekali panen,” sebutnya.
Dia menyebutkan, itu, untuk pengembangan tambak tersebut, Lembaga
Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unimal turut terlibat.
Ketua LPPM Unimal, Yulius Dharma, menyatakan pengembangan vaname menjadi
solusi bagi masyarakat kota tetap bisa bertani.
“Kami ajak juga kawan-kawan ahli udang untuk menjadikan lahan ini
sebagai pusat penelitian. Jadi, bukan hanya laba, ini juga bisa tempat
praktik mahasiswa,” sebutnya.
Matahari kian tergelincir ke barat, Miswardi masih berada di kolam
tersebut. Menyaksikan kincir terus berputar, memelihara harapan, agar
vaname hidup tanpa gangguan hama, dan mendatangkan rupiah untuk
keluarganya.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Menyulap Lahan Kosong menjadi Tambak Udang Vaname", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/03/06/213000626/menyulap-lahan-kosong-menjadi-tambak-udang-vaname.
Penulis : Kontributor Lhokseumawe, Masriadi
Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Menyulap Lahan Kosong menjadi Tambak Udang Vaname", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/03/06/213000626/menyulap-lahan-kosong-menjadi-tambak-udang-vaname.
Penulis : Kontributor Lhokseumawe, Masriadi
Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Di sudut lorong desa
itu, Miswardi duduk bersama teman-temannya di sebuah pondok. Di depannya
membentang dua petak tambak membentang luas.
Sebelumnya, lokasi itu hanya tanah kosong. Miswardi bersama
teman-temannya menyulap lahan kosong itu menjadi tambak dengan
menggunakan alas terpal plastik berwarna hitam.
Kincir air berputar saban hari di sekitar tambak. Bagian samping,
dipasang jaring hitam agar tak masuk binatang lainnya. Siang itu, dia
baru saja rehat setelah berkeliling tambak. Dia menebar udang vaname di
tambak tersebut.
Sebuah gubuk disiapkan bukan hanya sekadar tempat istirahat, namun juga
tempat menginap untuk menjaga udang.
“Ya, khawatir juga kan ada pencuri,” kata pegawai negeri di Universitas
Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara itu.
Budidaya udang vaname memang opsi bertani tambak dengan lahan terbatas.
Namun, sambung Miswardi, butuh kesabaran merawat vaname.
“Misalnya soal air, harus steril. Ditambah lagi harus gunakan kincir
air, agar selalu air segar di tambak. Namun, bagi saya, ini tambahan
penghasilan,” sebutnya.
Untuk ukuran tambak 6.000 meter persegi, Miswardi menggelontorkan modal
dasar sekitar Rp 50 juta. Uang itu bukan hanya untuk kebutuhan tambak,
namun juga untuk kebutuhan pondok dan biaya jaga malam.
Untuk bibit, dia mendatangkan langsung dari Jawa Timur. Udang vaname
baru bisa dipanen 120 hari setelah ditabur ke kolam. Diperkirakan, dalam
rentang waktu 120 hari tersebut, 1 kilogram terdapat 50 ekor udang.
“Kami anggap sajalah harga jual termurah itu Rp 85.000 per kilogram.
Dengan dua tambak itu, saya duga ada dua ton udang. Ya sekitar Rp 160
juta lah sekali panen,” sebutnya.
Dia menyebutkan, itu, untuk pengembangan tambak tersebut, Lembaga
Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unimal turut terlibat.
Ketua LPPM Unimal, Yulius Dharma, menyatakan pengembangan vaname menjadi
solusi bagi masyarakat kota tetap bisa bertani.
“Kami ajak juga kawan-kawan ahli udang untuk menjadikan lahan ini
sebagai pusat penelitian. Jadi, bukan hanya laba, ini juga bisa tempat
praktik mahasiswa,” sebutnya.
Matahari kian tergelincir ke barat, Miswardi masih berada di kolam
tersebut. Menyaksikan kincir terus berputar, memelihara harapan, agar
vaname hidup tanpa gangguan hama, dan mendatangkan rupiah untuk
keluarganya.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Menyulap Lahan Kosong menjadi Tambak Udang Vaname", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/03/06/213000626/menyulap-lahan-kosong-menjadi-tambak-udang-vaname.
Penulis : Kontributor Lhokseumawe, Masriadi
Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Demikianlah yang dapat kami sampaikan, semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi anda.Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Menyulap Lahan Kosong menjadi Tambak Udang Vaname", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/03/06/213000626/menyulap-lahan-kosong-menjadi-tambak-udang-vaname.
Penulis : Kontributor Lhokseumawe, Masriadi
Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Persiapan Tambak Udang Vaname
tambak udang vaname, Mamuju Utara, Sulbar
Hal
yang paling utama dalam langkah awal budidaya udang vaname adalah,
menyiapkan tempat budidaya dengan baik, baik itu dari segi lingkungan,
maupun bibit hewannya.
Langkah pertama, tambak harus dikeringkan terlebih dahulu sampai air yang ada didalam tambak sudah benar-benar kering.
Kemudian,
biarkan tambak tersebut selama 1 minggu penuh supaya bibit penyakit,
patogen, dan mikroorganisme lainnya yang dapat merugikan sudah hilang.
Di sudut lorong desa
itu, Miswardi duduk bersama teman-temannya di sebuah pondok. Di depannya
membentang dua petak tambak membentang luas.
Sebelumnya, lokasi itu hanya tanah kosong. Miswardi bersama
teman-temannya menyulap lahan kosong itu menjadi tambak dengan
menggunakan alas terpal plastik berwarna hitam.
Kincir air berputar saban hari di sekitar tambak. Bagian samping,
dipasang jaring hitam agar tak masuk binatang lainnya. Siang itu, dia
baru saja rehat setelah berkeliling tambak. Dia menebar udang vaname di
tambak tersebut.
Sebuah gubuk disiapkan bukan hanya sekadar tempat istirahat, namun juga
tempat menginap untuk menjaga udang.
“Ya, khawatir juga kan ada pencuri,” kata pegawai negeri di Universitas
Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara itu.
Budidaya udang vaname memang opsi bertani tambak dengan lahan terbatas.
Namun, sambung Miswardi, butuh kesabaran merawat vaname.
“Misalnya soal air, harus steril. Ditambah lagi harus gunakan kincir
air, agar selalu air segar di tambak. Namun, bagi saya, ini tambahan
penghasilan,” sebutnya.
Untuk ukuran tambak 6.000 meter persegi, Miswardi menggelontorkan modal
dasar sekitar Rp 50 juta. Uang itu bukan hanya untuk kebutuhan tambak,
namun juga untuk kebutuhan pondok dan biaya jaga malam.
Untuk bibit, dia mendatangkan langsung dari Jawa Timur. Udang vaname
baru bisa dipanen 120 hari setelah ditabur ke kolam. Diperkirakan, dalam
rentang waktu 120 hari tersebut, 1 kilogram terdapat 50 ekor udang.
“Kami anggap sajalah harga jual termurah itu Rp 85.000 per kilogram.
Dengan dua tambak itu, saya duga ada dua ton udang. Ya sekitar Rp 160
juta lah sekali panen,” sebutnya.
Dia menyebutkan, itu, untuk pengembangan tambak tersebut, Lembaga
Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unimal turut terlibat.
Ketua LPPM Unimal, Yulius Dharma, menyatakan pengembangan vaname menjadi
solusi bagi masyarakat kota tetap bisa bertani.
“Kami ajak juga kawan-kawan ahli udang untuk menjadikan lahan ini
sebagai pusat penelitian. Jadi, bukan hanya laba, ini juga bisa tempat
praktik mahasiswa,” sebutnya.
Matahari kian tergelincir ke barat, Miswardi masih berada di kolam
tersebut. Menyaksikan kincir terus berputar, memelihara harapan, agar
vaname hidup tanpa gangguan hama, dan mendatangkan rupiah untuk
keluarganya.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Menyulap Lahan Kosong menjadi Tambak Udang Vaname", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/03/06/213000626/menyulap-lahan-kosong-menjadi-tambak-udang-vaname.
Penulis : Kontributor Lhokseumawe, Masriadi
Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Menyulap Lahan Kosong menjadi Tambak Udang Vaname", https://ekonomi.kompas.com/read/2018/03/06/213000626/menyulap-lahan-kosong-menjadi-tambak-udang-vaname.
Penulis : Kontributor Lhokseumawe, Masriadi
Editor : Bambang Priyo Jatmiko
to top ↑


















